Jika Umar Tak Sarankan Pengumpulan Qur’an…

0

Sekiranya Umar tidak menyadari apa yang akan mungkin menimpa para penghafal Qur’an di tempat-tempat lain selain Yamamah, dan segala akibatnya dengan banyaknya Qur’an yang hilang.

Barangkali tidak terpikir oleh Abu Bakr untuk menghimpunnya dan tidak akan berani pula. Bahkan sekiranya Umar tidak mengoreksi Abu Bakr ketika mengatakan:

BACA JUGA: Wanita Menstruasi, Apakah Boleh Membaca dan Menyentuh Mushaf Al-Qur’an?

“Bagaimana saya akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah” dan tidak dapat meyakinkannya betapa pentingnya menghimpun Qur’an, tentu Abu Bakr tidak terdorong untuk melakukannya, dan tidak akan memanggil Zaid bin Sabit untuk mengerjakannya. Kalau Abu Bakr juga telah berjasa dalam pekerjaan yang besar ini sehingga Ali bin Abi Talib berkata:

“Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Bakr, orang yang paling besar jasanya dalam mengumpulkan Qur’an, maka sudah tentu dalam pahala dan jasa itu sekaligus Umar juga bersama-sama.

Sungguh Muslimin sangat berutang budi kepadanya, begitu juga kepada Abu Bakr dalam mengumpulkan Kitabullah itu. Ini merupakan salah satu dari tiupan jiwa besarnya, tiupan yang membawa berkah paling agung dan mulia, yang telah memberikan segala yang terbaik.

Barangkali di atas sudah kita lihat sejauh mana peranan Umar pada masa Abu Bakr. Kita lihat dia pada masa itu — sama seperti ketika mendampingi Rasulullah — ia lebih berperan sebagai orang yang mempunyai banyak gagasan dan kebijakan politik yang luar biasa, daripada sebagai orang lapangan dan di medan perang.

Bahkan sudah kita lihat bagaimana ia menentang Abu Bakr dalam hal memerangi orang yang tak mau membayar zakat. Begitu juga sebelum itu, ia menentang meneruskan pengiriman pasukan Usamah.

Sesudah kemudian ia melihat politik jihad membawa keunggulan dan kemenangan, ia pun menerimanya dan mendukung Abu Bakr dengan sungguh-sungguh.

BACA JUGA: Ternyata, Menghiasi Al-Qur’an dengan Suara itu Sunnah

Bukankah politik jihad itu yang telah dapat menumpas kaum murtad dan mengembalikan mereka ke pangkuan Islam, dan seluruh Semenanjung Arab bernaung di bawah satu panji?

Bukankah politik ini juga yang telah membukakan pintu Irak dan pada gilirannya merambah jalan ke Persia? Tidak heran jika Umar benar-benar yakin dan langsung memberikan dukungannya pada setiap langkah yang sudah diyakininya.

Referensi: Umar bin Khattab, Muhammad Husain Haekal

Artikel Terkait :

Kamu Sedang Offline