Unik, Informatif , Inspiratif

Sembelihlah! Asal Jangan Ada yang Mengetahuimu…

0
, Sembelihlah! Asal Jangan Ada yang Mengetahuimu…
Foto: Berita Sidoarjo

INSPIRADATA. Hidup sebagai makhluk yang berpikir dan beradab, tentunya ada rasa malu dan menghormati terhadap diri sendiri, sesama, dan Yang Maha Mengetahui. 

Mungkin kisah ini sudah lumrah didengar dan diperdengarkan bagi Anda, namun sangat berkenan sekali terus mengingat dan mengisahkannya kembali. Karena mempunyai pesan moral yang tinggi, dan memang harus dipahami.

Kisah berawal dari suatu pesantren salafi di suatu desa, sang kyai pengurus pesantren mengadakan sayembara kepada semua santri senior yang laki-laki. Jika seorang santri berhasil menyelesaikan tantangan, maka ialah yang berhak menikahi putrinya kelak.

Kyai bukan memberi tantangan berupa hafalan kitab-kitab tertentu ataupun bukan melawan siapapun, semua santri terperanjat kaget sekaligus ciut mentalnya atas apa yang ditawarkan.

Yang siap dan menerima tantangan hanyalah tiga orang saja, Zaid, Umar, dan Ali-lah yang maju.

Kyai akhirnya membawa 3 ayam dari kandangnya, lalu diberikan kepada tiga orang santrinya itu.

“Bawalah ayam ini, tiap orang satu ayam. Dan sembelihlah ayam ini, dengan syarat tak ada siapapun yang mengetahui apa yang kau lakukan!” Kata Kyai.

“Siap?” lanjutnya.

“Na’am kyai, saya siap dengan pisau tajam di tangan ini, insya Allah berhasil,” jawab Zaid.

“Bisa Kyai, saya sudah siapkan semuanya,” Jawab Umar.

“Baik, Kyai insyaAllah,” kata Ali.

Tiga santri tersebut pergi keluar pesantren, karena telah diizinkan sebelumnya oleh kyai untuk melakukan titahnya, dengan waktu tiga hari.

Zaid terasa bingung apa yang harus ia lakukan, dan kapan waktu yang tepat saat tak ada siapapun di luar pesantren tersebut, karena desa selalu ramai dilalui para pedagang saat malam hari yang dilanjutkan para petani pagi sampai sorenya.

Tak menunggu lagi, akhirnya dengan mengucapkan basmallah Zaid menyembelih ayam tersebut di belakang rumahnya, sebelum waktu subuh. Karena pikirnya waktu tersebut lah saat tak ada orang (hening).

Dan besoknya ia langsung membawa ayam hasil sembelihan kepada kyai. Kyai pun langsung memasak dan memakan ayam tersebut dengan Zaid, sebelum pengumuman juara.

Kemudian Umar, dengan beraninya, saat hari pertama-pun ia sudah menyembelihnya di dekat pesantren, dengan mengucap basmallah, ia menyembelih ayam tersebut saat waktu malam. Dan langsung membawanya ke rumah, karena pikirnya ayam itu sudah diberikan kepadanya dari Kyai.

Berbeda dari yang lain, Ali tidak pergi ke mana-mana selama tiga hari. Ia hanya tinggal di kamar kecilnya di pesantren, sembari sekali-kali keluar membimbing santri junior di majelis, mengajar kitab-kitab.

Tiga hari telah berlalu, tiga santri tersebut menemui kyai di rumahnya, melaporkan hasil dan menerima pengumuman dari Kyai.

Ternyata, pemenang tantangan tersebut adalah Ali, hanya diam di pesantren dan tidak pulang, Kyai melihatnya sedang mengurus ayam tersebut yang sampai akhirnya disimpan langsung ke kandang ayam sang Kyai.

Bukan karena apa-apa, Kyai memilih Ali karena katanya yang menerangkan,

“Saya bingung dengan tantangan tersebut, Kyai nyuruh saya buat nyembelih ayam tersebut, dengan tidak ada siapapun melihat atau mengetahuinya.

Setelah dipikir-pikir lagi, ada Allah yang senantiasa melihat saya dan semuanya, lalu kenapa saya harus menyembelihnya. Mungkin itu juga yang dimaksud kyai bukan?”

Meskipun tak tampan dan kaya, Ali menikahi putri kyai karena pikirannya yang panjang dan keyakinannya kuat terhadap adanya Yang Mengawasi. []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.