Foto: Pixabay

Singapura Izinkan Gay Adopsi Anak Sendiri

Pengadilan tinggi Singapura menerbitkan izin bagi seorang laki-laki penderita gay mengadopsi putra biologisnya. Putusan tersebut sebagai langkah bersejarah bagi Singapura yang terkenal konservatif.

Dikutip dari Reuters, Senin (17/12/2018), putusan ini diambil berdasarkan kasus seorang laki-laki gay yang diketahui berprofesi sebagai dokter dan telah memiliki partner. Pasangan gay ini memiliki anak biologis lewat sebuah pembuahan buatan menggunakan ibu pengganti di Amerika Serikat.

BACA JUGA: Mahathir: LGBT Itu Budaya Barat, Tak Bisa Dipaksakan di Malaysia

Pada Desember 2017, permohonan pasangan gay ini untuk mengadopsi anak biologis mereka ditolak pengadilan dengan menyatakan pasangan gay itu telah berupaya melanggar sistem aturan hukum yang telah ditetapkan sejak lama.

Putusan pengadilan itu juga menyatakan laki-laki (gay) tidak boleh mengadopsi anak yang dilahirkan dari seorang ibu yang rahimnya disewakan. Prosedur semacam ini tidak diperbolehkan di Singapura bagi pasangan yang tidak menikah.

Putusan pengadilan itu dibuat di tengah-tengah desakan publik agar Singapura memperbaharui undang-undang negara itu yang dibuat pada era penjajahan Inggris, dimana pernikahan gay bisa dikenai hukuman maksimum dua tahun penjara. Desakan agar undang-undang ini dicabut semakin deras setelah India menghapuskan undang-undang serupa pada tahun ini.

“Putusan ini kami ambil dengan pertimbangan kekhawatiran agar jangan putusan sampai menciderai kebijakan publik terhadap pembentukan keluarga yang dibangun dari pernikahan sesama jenis, dimana pernikahan antar gay masih dipersengketakan. Kami juga mempertimbangkan sejauh mana kebijakan ini akan dilanggar jika sebuah adopsi dibuat.

BACA JUGA: Soal Adanya 5 Fraksi Pendukung LGBT, Ketua MPR Akan Dilaporkan ke MKD

Namun, kami berpikir tidak satu pun dari alasan ini cukup kuat untuk memungkinkan kami mengabaikan keharusan hukum untuk meningkatkan kesejahteraan anak,” kata Kepala Hakim, Sundaresh Menon.

Kasus pasangan gay di Singapura itu menarik perhatian publik. Pasangan itu membayar hingga US$ 200 ribu atau sekitar Rp 2,9 miliar untuk menyewa rahim seorang perempuan agar mau mengandung sperma salah satu dari mereka lewat pembuahan buatan di Amerika Serikat. []

SUMBER: TEMPO | REUTERS


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *