Masjid Assa’id atau masjid arab makassar
Masjid Assa’id atau masjid arab makassar

Tak Ada Jemaah Perempuan di Masjid Arab Makassar, Ini Alasannya!

INSPIRADATA. Masjid Assa’id yang terletak di Jalan Lombok, Kecamatan Wajo, Makassar dikenal dengan nama Masjid Arab Makassar ini, sangat mempertahankan tradisi Arab.

Imam masjid Assa’id, Habib Alwy Al Bafaqih mengatakan:

“Tradisi yang dipertahankan adalah tradisi dari Arab salah satunya soal jemaah perempuan atau wanita yang tidak ada di masjid. Karena memang tradisinya orang Arab, di masjid-masjid kecil perempuannya tidak ada. Kecuali masjid-masjid bersejarah di zaman Rasulullah seperti masjid Nabawi dan masjidil haram,” jelasnya.

Dia menuturkan, saat ini banyak masjid yang dipenuhi perempuan. Maka alangkah baiknya kalau masjid Assa’id tetap mempertahankan tradisi yang sudah ada sejak dulu. Namun pihaknya tidak melarang jika ada perempuan yang salat di masjid ini. Bahkan ada yang sengaja meninggalkan peralatan salatnya seperti mukena di masjid ini dengan tujuan jika nantinya kembali bertemu masjid ini, bisa salat dengan mukena yang sudah pernah ditinggalkan.

“Jadi di Ramadan ini, jangan cari jemaah perempuan karena memang masjid ini untuk laki-laki,” ujar Alwy Al Bafaqih.

Dia menambahkan, ada hadis Nabi yang menyebutkan bahwa sebaik-baiknya salat wanita itu dilakukan di rumah. Tapi bukan berarti wanita tidak bisa salat di masjid kalau dia merasa aman, jauh dari fitnah.

Masjid yang berusia 110 tahun itu didirikan oleh para habib keturunan Arab tepatnya dari Yaman, Hadramaut yang menginjakkan kaki di wilayah Sulawesi sejak tahun 1800- 1900.

Masjid ini diinisiasi Habib Hasan bin Muhammad Asshofi dan Habib Ali bin Abdurrahman Shihab selesai dibangun pada 1907 dan langsung dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan ibadah, syiar agama warga keturunan Arab dengan masyarakat setempat. Habib Ali bin Abdurrahman Shibab adalah kakek dari Prof Dr H Muhammad Quraish Shihab, salah seorang cendekiawan muslim di Indonesia. Dia langsung ditunjuk sebagai imam pertama kalinya di masjid itu.

Pemerintah telah menetapkan masjid ini sebagai benda cagar budaya. Masjid yang kini dikelola Yayasan Assa’id Makassar itu memiliki luas 18 x 22 meter persegi di atas tanah seluas 23 x 70 meter. Kapasitasnya bisa mencapai 750 orang. Dari sisi eksterior dan interior, tidak ada yang menonjol dari masjid ini. Hanya saja ada bagian-bagiannya yang sengaja dibangun dilatarbelakangi nilai filosofi.

“Pintunya yang besar-besar itu ada 9 buah menghiasi sisi depan, kanan dan kirinya. Angka 9 itu angka tertinggi, angka ganjil. Sesuatu yang ganjil itu, Allah SWT paling suka, misalnya jumlah rakaat witir yang ada 3 rakaat,” tutur Habib Alwy Al Bafaqih.

Lalu ada empat tiang atau pilar besar di dalam masjid yang masing-masing berdiameter 80 centimeter sebagai simbol empat khalifah. Habib Alwy menceritakan, pintu-pintunya sengaja dibuat lebih lebar agar jemaah yang berada di dalam maupun teras masjid tetap saling berdekatan. Karena secara fiqhi, antara jemaah sebaiknya berkesinambungan.

“Masjid ini dibangun atas dasar maszhab Imam Syafii yang menyebutkan imam tidak boleh terputus dengan ma’mum. Jadi kalau ada jemaah di belakang, minimal harus melihat ma’mum-ma’mum, tidak boleh tertutup,” katanya. []


Artikel Terkait :

About Nabila Maharani

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *