Unik, Informatif , Inspiratif

Tak Hanya Cadar dan Azan, Habib Rizieq pun Pernah Dipersoalkan Sukmawati

0

Sukmawati Soekarnoputri sedang menjadi sorotan publik Indonesia karena puisinya yang kontroversial. Puisi berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakannya di acara pagelaran busana Anne Avanti, Jakarta, beberapa waktu lalu itu dinilai telah merendahkan ajaran Islam.

Pasalnya, dalam isi bait puisi tersebut terdapat keterangan yang menyinggung soal cadar dan suara azan yang dinilainya kalah merdu daripada suara kidung.

Namun, ternyata bukan kali ini saja Sukmawati jadi sorotan.

Sebelumnya, putri mantan presiden RI ke-1, Soekarno, ini juga pernah terjerat sejumlah kasus, di antaranya sebagai berikut.

1. Dipolisikan dengan Tuduhan Palsukan Ijazah SMA

Pada 2008 lalu, Sukmawati pernah dilaporkan KPU ke Mabes Polri.

Dia dituduh memalsukan dokumen kelulusan SMA dalam berkas pendaftaran bakal caleg dari PNI Marhaenisme untuk Pemilu 2009.

Di dalam berkas pendaftaran, putri Proklamator RI Sukarno itu menggunakan ijazah dari SMA 3 Jakarta.

Padahal, arsip KPU tentang caleg tetap untuk Pemilu 2004, ijazah yang diajukan adalah dari SMA 22 Jakarta.

Usai diperiksa polisi di Bareskrim Mabes Polri, dia ditetapkan sebagai tersangka.

Namun, kasusnya dihentikan karena kurang bukti. Kabareskrim pada saat itu, Komjen Susno Duaji mengatakan, ijazah yang dimiliki Sukmawati hanya fotokopi dan tidak ada legalisir.

“Kasus dihentikan. Kita tidak punya cukup bukti,” kata Susno Duaji di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (18/11/28).

2. Polisikan Habib Rizieq

Nama Sukmawati kembali diperbincangkan karena melaporkan Habib Rizieq ke Bareskrim Polri pada Oktober 2016 lalu.

Sukmawati mengatakan, Habib Rizieq dianggap telah melecehkan Pancasila saat Tabligh Akbar FPI.

“Saya datang sebagai Ketua Umum PNI Marhaenisme melaporkan Habib Rizieq Ketua FPI perihal penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila, serta menghina kehormatan martabat Dr. Ir Soekarno sebagai Proklamator kemerdekaan Indonesia dan Presiden pertama Republik Indonesia,” kata Sukmawati Soekarno di Bareskrim Polri di Gedung KKP Bahari II, Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (27/10/16).

Dalam video, disebutkan Sukmawati, Habib Rizieq yang juga merupakan Imam Besar FPI itu menyatakan ‘Pancasila Sukarno Ketuhanan ada di Pantat, sedangkan Pancasila Piagam Jakarta Ketuhanan ada di Kepala’.

Menanggapi pelaporan itu, Rizieq mengatakan Sukmawati tak memahami isi ceramahnya.

Rizieq juga menyebut Sukmawati telah melakukan kriminalisasi terhadap tesisnya yang berjudul ‘Pengaruh Pancasila terhadap Penerapan Syariat Islam’ di Indonesia’.

Tesis tersebut mendapatkan predikat cum laude di University of Malaya, Malaysia.

“Sukmawati gagal paham soal ceramah saya. Ceramah saya diedit dan dipotong dan dilaporkan Sukmawati dengan penistaan Pancasila, ini nggak betul. Sama saja melakukan kriminalisasi tesis ilmiah,” kata Habib Rizieq saat istirahat pemeriksaan di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Kamis (12/1/17).

3. Puisi ‘Ibu Indonesia’

Media sosial dihebohkan dengan video saat Sukmawati membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia”.

Puisi tersebut bernada SARA dan dianggap menyinggung umat muslim.

Di dalam puisi, Sukmawati menyinggung azan dan cadar.

Kecaman dan reaksi keras ditujukan kepadanya termasuk ancaman pelaporan ke polisi.

Tuntutan itu datang dari Forum Umat Islam Bersatu (FUIB). Mereka meminta Sukmawati meminta maaf kepada umat Islam karena puisinya dianggap meresahkan.

“Kepada Ibu Sukmawati, untuk meminta maaf kepada umat Islam karena (puisinya meresahkan),” ungkap Ketua Umum FUIB Rahmat Himran saat dimintai konfirmasi detikcom, Selasa (3/4/18).

Bahkan, pengacara hingga politikus telah melaporkan dia ke polisi pada Selasa (3/4/18) ini.

Salah seorang pelapor, yakni Ketua DPP Hanura Amron Asyhari.

Dia melaporkan kasus ini bukan atas nama institusi partai, melainkan secara personal.

Laporan Amron tertuang dalam laporan polisi bernomor L/1785/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimum tanggal 3 April 2017. Perkara yang dilaporkan adalah dugaan tindak pidana penistaan agama dengan Pasal 156 A KUH.

Sukmawati pun angkat bicara soal puisinya yang kontroversial.

Dia menjelaskan apa yang disampaikan dalam puisi adalah pandangannya sebagai budayawan dan membantah adanya isu SARA.

“Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja, namun saya menyelami, menghayati, khususnya ibu-ibu di beberapa daerah. Ada yang banyak tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia timur di Bali dan daerah lain,” kata Sukmawati saat dihubungi. []

 

Sumber: detikcom


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.