Inspirasi dan Data

Tak Harus Banyak, Harta Cukup, Penting Sebelum Menikah

0 68

Menikah merupakan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Menikah dapat membuat seseorang terjaga dari kemaksiatan. Menikah merupakan salah satu ibadah yang paling menyenangkan. Dan karena ibadah ini termasuk ibadah yang paling lama, tentu kita butuh persiapan, salah satunya persiapan harta saat hendak menikah.

Bukannya untuk mengecilkan hati para pemuda yang sedang semangat menikah. Namun, perlu diketahui, harta juga diperlukan dalam menikah, walaupun tak harus banyak.

Jangan sampai kita memulai kehidupan baru dari nol sama sekali atau tak punya usaha yg dirintis yg diharapkan berkembangnya dengan usaha dan keberkahan menikah.

Sebagaimana dalam Hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَـرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَـرْجِ. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berPuasa; sebab Puasa dapat menekan syahwatnya.”[HR. Bukhari]

Pendapat terkuat dari makna “baa-ah” dalam hadits anjuran menikah bagi pemuda, InsyaAllah adalah harta yang cukup (tidak harus banyak) dan kemampuan menunaikan kecukupan terkait nikah.

Karena bila “baa-ah” dimaknai sebagai kemampuan jima’, maka semua pemuda sudah punya kemampuan pada umumnya.

Ibnu Daqiq Al’Ied menjelaskan,

واستطاعة النكاح :القدرة على مؤنة المهر والنفقة .

“Yaitu kemampuan nikah: kemampuan memberikan mahar dan menafkahi” (Ahkamul Ihkam syarh Umadatul Ahkam)

Tak harus punya pekerjaan tetap tetapi tetaplah bekerja

Ada beberapa kisah terkait nikah tanpa perhitungan, akibatnya utang sana sini dan bahkan hingga rumah tangga akan hancur, akhirnya hilang dari “peredaran” kumpulan orang-orang shalih.

Kalau orang tua sanggup “menanggung” atau membantu sementara, itu juga termasuk “ba’ah” (misalnya kuliah sambil nikah)

Kalau tidak sanggup, jangan bebankan orang tua

Jangan juga menikah tanpa pertimbangan dan perhitungan, apalagi mencari pembenaran “Sahabat saja dulu, miskin-miskin tetap menikah, pakai mahar hanya cincin besi.”

Berbeda dengan kita, sahabat walau miskin tetapi iman kuat dan hati terang serta yakin dengan rezeki Allah,
terkadang kita tidak ada uang, kepala pusing, inginnya marah bahkan depresi.

Jadi pertimbangan yang matang itu perlu.

Jika ingin menikah, Ingat juga bagi mereka yg berusaha, ingat motivasi syariat:
1. Mencari kaya dengan menikah
2. Mencari berkah dengan menikah
3. Janji pertolongan Allah kepada mereka yg menjaga diri dengan menikah

Allah berfirman,

إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Jika mereka Miskin, Allah akan berikan kekayaan dengan anugrah Allah”

Ibnu mas’ud berkata,

التمسوا الغنى في النكاح

“Carilah kekayaan dengan menikah” (Tafsir Ibnu Katsir 6/51)

Jadi, musyawarahkan dengan orang tua, teman dekat, ustadz, mereka yang pengalaman nikah muda dan yang lainnya. Jika sudah berazam dan bertekad, tawakkal kepada Allah serta ber.

Semoga dimudahkan bagi mereka yang ingin segera menikah, agar terjaganya kehormatan mereka. []

Sumber: afiyah.com

loading...
loading...
Comments
Loading...