Unik, Informatif , Inspiratif

Takut Dideportasi ke Myanmar, 1.300 Muslim Rohingya Eksodus ke Bangladesh dari India

0

DHAKA – Penolakan di India, dan ketakutan akan deportasi ke Myanmar, telah membuat lebih banyak Muslim Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan India ke Bangladesh. Di Banglades sejuta orang Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsi yang luas di tenggara negara itu.

Setelah ‘terusir’ dari negaranya, Myanmar, 40.000 Rohingya diyakini telah berlindung di India. Polisi mengatakan mereka yang datang tinggal di India selama bertahun-tahun.
Saat ini, setidaknya 1.300 Muslim Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh dari India sejak awal tahun ini. Eksodus ini dipicu oleh kekhawatiran akan dideportasi ke Myanmar oleh India.

“Sekitar 1.300 orang dari 300 keluarga telah tiba dari India ke Bangladesh sampai hari ini,” kata Nayana Bose, juru bicara Kelompok Koordinasi Antar Sektor (ISCG), seperti dikutip Al Jazeera dari AFP, Kamis (17/1/2019). ISCG ini organisasi yang mencakup badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan asing.

BACA JUGA: Kemensos Salurkan Bantuan Uang kepada Pengungsi Rohingya di Aceh

“Para pendatang baru ditempatkan di pusat transit PBB,” tambahnya. Nayana juga menjelaskan kedatangan itu terjadi sejak 3 Januari 2019.

Juru bicara UNHCR Firas Al-Khateeb mengatakan badan pengungsi PBB telah mengetahui situasi tersebut.

polisi menahan mereka yang melintasi perbatasan dalam beberapa pekan terakhir. Para pelintas batas ini telah dan dikirim ke Cox’s Bazar, sebuah distrik di selatan yang menampung kamp-kamp pengungsi terbesar di dunia.

Penahan pengungsi di India telah menuai kritik tajam. Karena India memulangkan pengungsi Rohingya ke Myanmar dalam beberapa bulan terakhir. Padahal anggota kelompok minoritas yang dianiaya itu menghadapi risiko keamanan jika kembali ke negara asal mereka.

BACA JUGA: Pengungsi Rohingya Tolak Kembali ke Bangladesh dan Myanmar Jika tanpa Jaminan Keamanan

PBB dan kelompok hak asasi manusia menuduh India mengabaikan hukum internasional dan mengembalikan Rohingya ke bahaya yang mungkin terjadi di Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.

“Selama setahun terakhir pemerintah India telah membuat hidup para pengungsi Rohingya di India sangat sulit,” kata Ravi Nair, dari Pusat Dokumentasi Hak Asasi Manusia Asia Selatan (SAHRDC).

Menurut Nair India harus menghormati “hak atas perlindungan” dan “non-refoulement”, praktik tidak memaksa pengungsi atau pencari suaka untuk kembali ke negara di mana mereka besar kemungkinan akan mengalami penganiayaan, yang merupakan aspek dari hukum humaniter internasional .

India bukanlah negara penandatangan Konvensi Pengungsi PBB. Tapi India menampung 230 Rohingya pada tahun 2018 . Pengungsi yang terbanyak dari tahun-tahun sebelumnya ketikan kaum nasionalis Hindu menyerukan agar kelompok Muslim yang terlantar harus dideportasi secara massal.

Nair menyebutkan bahwa kunjungan rutin oleh pejabat intelijen setempat, ini termasuk pelecehan tentang dokumen mereka.

“Sejumlah besar Rohingya, data kami menunjukkan lebih dari 200, dari Jammu ke Tripura, Assam dan negara-negara Benggala Barat telah ditangkap dan dipenjara,” ungkap Nair.

Nair dari SAHRDC mengatakan kebijakan pemerintah jingoistic, ultra-nasionalis (Partai Bharatiya Janata) yang berkuasa mencerminkan bahwa itu tidak ada hubungannya dengan masalah kemanusiaan.

Nair mengatakan : “Menteri Luar Negeri Bangladesh diharapkan datang ke sini minggu depan, dan kami berharap dia akan mengambil ini dengan kuat dengan India.” []

SUMBER: SINDONEWS


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.