Buffon Last Italy (foto: Le Buzz Eurosport)

Tangis Perjuangan di Akhir Karier Buffon Bersama Gli Azzuri

Peluit panjang akhir pertandingan kualifikasi piala dunia 2018 Italia kontra Swedia mengundang tangis di Stadion San Siro. Yang manjadi sorotan tangis adalah sang kapten Gianluigi Buffon.

Italia gagal menembus Piala Dunia Rusia tahun depan. Gli Azzurri harus menyerahkan tiket Piala Dunia ke tangan Swedia yang dalam pertandingan leg kedua, Selasa (14/11/2017) dini hari WIB berhasil menahan imbang Italia dengan skor 0-0.

Sang kapten dan penjaga gawang Gli Azzuri, pria berusia 39 tahun itu menangis. Dengan ban kapten yang melingkar di lengannya sang pria beberapa kali menghapus air matanya.

Air mata Buffon semakin tidak tertahan manakala dia baru saja memutuskan bahwa hari itu adalah pertandingan terakhirnya bersama Tim nasional Italia.

“Sangat mengecewakan, bukan untukku tapi untuk perkembangan sepak bola karena kita gagal melakukan sesuatu yang penting bagi negara, ini adalah penyesalan yang saya miliki dalam akhir karier saya,” ujar Buffon dilansir Soccerway.

Kurang lebih 20 tahun sudah Buffon berkarier untuk Timnas Italia. Tahun 1997 adalah pertama kalinya Buffon memulai karier bersama Timnas Italia. Saat itu, penjaga gawang yang berpenampilan parlente ini turun menggantikan Gianluca Pagliuca dalam babak play-off Piala Dunia 1998 menghadapi Rusia.

Tidak seperti saat ini, 20 tahun yang lalu Buffon berhasil membawa Italia lolos ke Piala Dunia usai menang dengan agregat 2-1. Tapi sayang, Buffon, yang kemudian hanya jadi kiper ketiga Italia pada Piala Dunia 1998, ikut gagal bersama Azzurri yang takluk dari Prancis pada babak perempat final.

Tapi, delapan tahun kemudian, tepatnya pada Piala Dunia 2006 di Jerman, Buffon berhasil membawa Italia meraih prestasi terbaik di kompetisi sepak bola terbesar di dunia. Tak seperti di Piala Dunia 1998, kali ini Italia berhasil menaklukan Prancis melalui drama adu penalti.

Piala Dunia 2006 adalah prestasi terbesar yang Buffon berikan untuk Timnas Italia. Karena itulah, Buffon amat kecewa ketika tahu Italia gagal lolos ke Piala Dunia tahun depan.

“Sayang sekali pertandingan resmi terakhir saya bertepatan dengan gagalnya Italia lolos ke Piala Dunia,” tutur Buffon.

“Tapi, saya tidak khawatir dengan masa depan sepak bola Italia, karena mereka memiliki kebanggaan, kemampuan, tekad, dan setelah gagal kami selalu tahu caranya untuk bangkit kembali,” lanjutnya.

Dalam laga dini hari tadi, Buffon memang tidak terlalu bekerja keras. Pasalnya, gawang Italia jarang sekali mendapat ancaman dari Swedia. Hal yang wajar mengingat Italia butuh menang karena pada leg pertama di Swedia mereka takluk 1-0.

Kokohnya benteng pertahanan Swedia tak mengasilkan apapun bagi Italia. Hingga pertandingan usai skor tetap kacamata dan Buffon bersama Italia harus rela hanya jadi penonton pada ajang sepak bola terbesar di dunia.[]

Kumparan


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Akankan Mou Sukses di Spurs?

Tujuannya jelas: mengarahkan klub kembali ke empat besar dalam jangka pendek dan, selama 18 bulan ke depan, mendapatkan beberapa trofi. Bisakah Mou?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *