Umar masuk Islam, ketinggalan shalat berjamaah, perlindungan dari sayap malaikat
Foto: pexels.com

Ternyata Inilah Ayat Penyebab Umar Bin Khattab Masuk Islam

Nama Umar Bin Khattab sudah tak asing lagi bagi Umat Islam. Pada masanya, sahabat Rasulullah SAW sekaligus Khalifah ini berhasil membawa Islam pada kejayaan. Lewat kepemimpinannya banyak negeri yang berhasil dikuasai, musuh tidak sanggup menghadapi, bahkan setan pun lari ketika melihatnya.

Namun siapa sangka, sebelum akhirnya bersyahadat, Umar sangat memusuhi Rasulullah SAW. dan agama yang dibawanya Islam.

Diriwayatkan bahwa Umar sempat beberapa kali mencoba membunuh Rasulullah SAW. dengan berbagai cara. Kebengisan Umar ini membuat umat saat itu beristilah bahwa Umar tidak akan masuk Islam sampai ada keledainya al-Khattab yang masuk Islam.

Hingga akhirnya pada suatu hari Allah memberinya hidayah lewat salah satu surat-Nya. Karena berasal dari sang pencipta, isi surat tersebut mampu menembus qalbu sang Umar yang ganas. Padahal Umar tengah dalam keadaan bersemangat ingin membunuh Rasulullah SAW.

Sebelum memeluk Islam, Umar yang berasal dari kaum Jahiliyah adalah penyembah berhala. Ia marah besar terhadap Rasulullah karena membawa agama yang bertentangan dengan ajaran nenek moyangnya.

Kisah Umar masuk Islam ini berawal ketika Umar hendak datang menemui Rasulullah SAW. untuk membunuhnya. Kemarahannya begitu memuncak ketika tahu banyak dari kaumnya yang justru mengikuti agama yang dibawa Rasulullah SWA. Nafsunya untuk membunuh Muhammad SAW ini juga dilakukan demi menghilangkan beban yang dipikul kaum Quraisy akibat sepak terjang Nabi SAW. dalam menyiarkan Islam.

Umar meninggalkan rumah dengan membawa sebilas pedang menuju Dar al Arqam. Di rumah Arqam bin Abi al Arqam ini memang sering dijadikan tempat berkumpul Nabi dan sahabatnya untuk menunaikan salat.

Namun alangkah terkejutnya Umar, ketika dalam perjalanannya ia justru mendengar kabar buruk yaitu sang adik, Fatimah dan suaminya sudah memeluk Islam. Kabar ini disampaikan Nu’aim bin Abdullah, ia berkata,

“Demi Allah, engkau menipu dirimu sendiri, wahai Umar ! tidakkah engkau berpikir bahwa bani Abdul Manaf akan membiarkanmu tetap hidup setelah engkau membunuh putra mereka, Muhammad? mengapa engkau tidak segera kembali ke rumahmu dan memperbaiki rumahmu sendiri, saudara perempuanmu, Fatimah, beserta suaminya telah memeluk agama Muhammad!

Mendengar kabar ini Umar seperti tersambar petir. Ia berbalik arah untuk kembali menuju rumah adiknya. Ketika Umar sampai di rumah Fatimah dibawah bimbingan Khabab, sang suami sedang mempelajari Surat Thaha. Surat inilah yang membuat Umar jatuh cinta dan memutuskan untuk memeluk Islam. Ia mendengarkan dengan seksama isi surat tersebut.

Umar kemudian masuk dan mempertanyakan kebenaran tentang kabar mereka masuk Islam. Iparnya, Khabab pun menjawab, dan jawaban itu menyebabkan Umar marah.

“Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?”

Mendengar ini, amarah Umar memuncak, sehingga menendang Khabab hingga tersungkur. Fatimah kemudian mencoba membangunkan suaminya namun justru kena tamparan umar sehingga darah menetes dari bibirnya.

Maka berkatalah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah, “Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”.

Umar ingin kembali menampar Fatimah, namun tak tega melihat tetesan darah dari bibir sang adik. Kemudian Umar mulai melunak dan meminta agar Fatimah memberitahukan apa yang dibacanya tadi.

“Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.’ Maka adik perempuannya berkata,” Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya.

Ia pun membaca hingga ayat ke 14 yang artinya, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Seketika itu dia memuji dan muliakan isi dari ayat tersebut, kemudian Umar meminta ditunjukkan keberadaan Rasulullah SAW. Umar kemudian kembali ke Dar al Arqam namun tetap membawa pedangnya. Sampai di rumah Arqam, kehadiran Umar membuat seisi ruangan cemas karena ia datang disertai pedangnya.

Umar kemudian mengetuk pintu. Mereka yang berada di dalam merasa kaget dan gelisah melihat Umar membawa pedangnya yang telah terhunus.

Namun Hamzah yang juga hadir di tempat itu meyakinkan mereka seraya mengatakan bahwa jika Umar datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika Umar datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri. Rasulullah SAW. memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar.

Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata, “Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah?”

Maka berkatalah Umar, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah. Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil Haram.

Seisi Mekah pun gempar mendengar keputusan Umar untuk memeluk Islam ini. Mengingat Umarlah orang yang begitu keras menentang Islam namun kini justru menjadi pengikut setia Rasulullah SAW.

Begitulah Allah, dengan mudahnya Dia membolak-balikan hati manusia. Dan bahwa semua ubun-ubun manusia berada di bawah kekuasaan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki kemampuan atas segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan yang dipilih-Nya. Bahkan dengan cara-cara yang tidak masuk akal sekalipun. Termasuk dengan sebuah surat At Thohah. []

Sumber: Satumedia.co


Artikel Terkait :

About Fajar Zulfikar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *