Unik, Informatif , Inspiratif

TGB: Tidak Ada Pertentangan dalam Islam dan Nasionalisme

0

Menurut Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, tidak ada pertentangan subtantif antara keislaman dengan nasionalisme atau kebangsaan. Masing-masing memiliki tempat.  Pendapat TGB ini ini terkait dengan kondisi yang sejak lama sudah berlangsung. Kondisi dimana di ruang publik dibahas soal nasionalisme dan keislaman.

TGB mengatakan bahwa seringkali publik berhadapan pada satu isu atau masalah berdasarkan yang dibaca dari tulisan orang yang menulis berbeda dengan konteks kita.

Menurut TGB secara konsep dan praktis tak ada benturan. Namun hal ini menjadi beda ketika ada yang menjadi pengusung dengan munculnya kelompok nasionalis ataupun islamis, kemudian membangun demarkasi berdasar pemahaman yang paling benar. Misalnya, para nasionalis cinta tanah air dan tak peduli agama. Sementara islamis adalah yang menjadikan agama sebagai panduan pokok dan tidak ada urusan dengan nasionalisme.

BACA JUGA: Resmi, TGB Gabung Golkar

TGB menjelaskan bahwa ketika masuk tafsiran kelompok bisa jadi ada benturan. Dalam situasi apapun, kita harus tetap menjaga akal sehat.

TGB berpandangan masa depan yang diajarkan dalam islam bukan konflik atau benturan, namun keharmonisan seperti yang disampaikan dalam Alquran.

Ketua alumni Al azhar Indonesia ini menjelaskan bahwa Islam datang untuk menyerap yang baik. TGB melanjutkan, bagian dari fitrah dan akal manusia adalah hubbul wathan. Nasionalisme dalam makna hubbul wathan adalah kehendak kuat lepas dari penjajahan.

Gubernur NTB periode 2008-2018 ini menambahkan, “Dan itu diakui oleh Islam, kecuali jika nasionalisme diartikan chauvinistik menganggap sebagai bangsa terpilih. Itu yang tak boleh, misal mengatakan Bangsa kita adalah bangsa terbaik. Yang lain nomor buncit, itu seperti klaim orang Yahudi.”

TGB berpendapat bahwa, semua pihak memiliki kewajiban menerangkan antara keislaman dan kebangsaan tidak ada pertentangan. TGB menjelaskan bahwa Islam tidak datang di ruang kosong, namun hadir dalam sejarah.

“Kebenaran dalam sejarah itu kebenaran dari Allah SWT. Cinta pada tanah air itu bagian dari naluri, tak mungkin bertentangan dengan agama,” kata TGB.

BACA JUGA: Bertemu UAS, TGB Bahas Visi Misi dan Komitmen Persatuan Umat

TGB juga menyinggung seringnya beberapa orang merujuk pengalaman dari negara lain untuk diterapkan di Indonesia. Dalam banyak isu keislaman Indonesia banyak merujuk pada tulisan lain pada situasi tertentu.

TGB memberi contoh misalnya, ada orang yang dipenjara kemudian menulis dengan penuh kemarahan. Wajar tulisannya penuh perlawanan, tak wajar bila kita mengambil mentah-mentah.

TGB menjelaskan juga bahwa di Indonesia memiliki pengalaman kebangsaan yang kaya dan tidak kurang untuk menjadi rujukan. “Jangan kemudian tulisan orang luar diterapkan di Indonesia. Pengalaman kebangsaan di Indonesia tidak kurang legitimasi,” kantanya.

Menurut TGB inilah yang kemudian disebut Islam nusantara. Islam Nusantara yang maknanya mengajak semua mengkodifikasi atau mendokumentasi dengan baik nilai keislaman Indonesia untuk bisa ditawarkan menjadi salah satu rujukan. Lebih jauh, bila kalangan umat islam di Arab mengalami masalah nasionalisme dan ada resistensi, itu karena pengalaman kolektif bangsa Arab. Nation state atau negara yang terbentuk adalah skenario atau buatan dari penjajah.

Dalam sejarahnya, diketahui bahwa Jazirah Arab itu dibelah-belah oleh Inggris maupun Perancis. Negara di Arab itu dibagi-bagi,” katanya.

Pengalaman pecah belah seperti ini, kata TGB, memicu sensitivitas terhadap nation state. Maka, lanjut TGB, para cerdik cendikia di Arab menulis kritikan pada bangsa Nation State. Hingga dipopulerkan satu kontra, ketika kekhalifahan itu lemah dan jatuh maka akan dibentuk negara sesuai kemauan penjajah.

TGB menambahkan: “Resistensi yang paling mudah dan dekat dengan sejarah, menulis tentang khalifah.”

Gubernur NTB 2008-2018 ini mengungkapkan, kejadian ini beda dengan di Indonesia. Nation state yang bernama NKRI bukan pemberian penjajah.

Dalam penjelasannya, TGB mengatakan: “NKRI ini lahir dalam bentuk penyatuan yang banyak. Kalau membaca sejarah, jelas para sultan atau raja baik di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa menyerahkan kekuasaan pada republik,”

TGB melanjutkan, tidak relevan ketika membaca karya yang mengecam nation stateberdasar pengalaman yang terjadi di Arab. Menurut TGB, ketika bicara bangsa yang paling aman adalah kembali kepada rujukan primer pada Alquran dan hadist, serta dari perjalanan panjang.

“Pandangan dunia yang ditawarkan oleh Al Quran bukan teori konflik. Seperti dikatakan Syaikh Ali Jum’ah yang ditawarkan yaitu pandangan dunia yang komplementatif bahwa semua potensi di dunia ini diakui oleh Islam,” sambungnya.[]

SUMBER: REPUBLIKA


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.