Perlunya seorang Muslim memaham fase-fase ini serta menjalaninya sesuai adab yang telah ditentukan.

Tiga Fase Usia dalam Kehidupan Manusia

Allah ciptakan manusia dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi ini. Tapi, tahukah kalian jika manusia memiliki tiga fase usia.

Hal ini tentu jarang dipahami oleh banyak orang, meski tidak sedikit diantara mereka mengetahuinya. Terlarut dalam kenikmatan menjadi penyebabnya. Berikut al-Quran membagi fase usia manusia.

BACA JUGA: Begini Cara Tahapan Setan Sesatkan Manusia

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu keadaan kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS: ar-Rum :54)

Untuk mengetahui maksud dari tiga fase ini kita perlu mencerna tafsir dari Ibnu Katsir, “Kemudian ia keluar dari arhim ibunya, lemah, kurus, dan tak berdaya. Kemudian ia tumbuh sedikit demi sedikit sampai ia menjadi seorang anak, lalu ia mencapai usia baligh, dan setelahnya menjadi seorang pemuda, yang merupakan kekuatan setelah kelemahan. Kemudian ia mulai menjadi tua, mencapai usia paruh baya, lantas menjadi tua dan uzur, kelemahan setelah kekuatan, maka ia kehilangan ketetapan hati, tenaga untuk bergerak, serta kemampuan berperang, rambutnya menjadi kelabu dan sifat-sifatnya, zahir dan batin, mulai berubah.”

Perlunya seorang Muslim memaham fase-fase ini serta menjalaninya sesuai adab yang telah ditentukan.

Diantara adab terkait fase usia ini adalah mereka yang berada di fase kuat atau dewasa hars bertindak sesuai kafasitasnya dan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab.

BACA JUGA: MUI Padang Larang Muslim Pakai Atribut Natal

Karena mereka adalah orang-orang yang berada di puncak fase usia dan yang paling memiliki kemampuan, maka dia harus melindungi dan mengayomi orang-orang yang berada di fase usia yang lain, bukan malah meninggalkan, tak peduli apalagi sampai menindas.

Karena itulah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi ana-anak kami dan tidak mengakui hak-hak orangtua kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah) []

SUMBER: HIDAYATULLAH


Artikel Terkait :

About Dini Koswarini

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *