Valentine, dari Perzinaan hingga Kemubadziran

0

Jika di era Romawi dahulu, perayaan Valentine sangat berkaitan dengan para dewa dan mitologi yang sesat dan kaum Nashrani menjadikannya simbol keagamaan, maka era modern kini dijadikan waktunya berpesta pora dengan kebebasan.

Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat kasih sayang dan cinta kasih. Na’udzu billah min dzalik.

Jauh dari kata zina saja di sebutkan haram hukumnya, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

ولا تقربوا الزنا إنه كان فاحشة وساء سبيلا

“Dan janganlah kamu mendekat zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. “ (QS Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa adanya larangan (ولا تقربوا الزنا) dalam ayat di atas sebenarnya lebih keras dari perkataan ‘Janganlah lakukan’. Artinya jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukannya, jelas-jelas lebih terlarang.

Ada Unsur Mubadzir

Sering didapati bahwa menjelang hari Valentine, berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Ya, pasti maksudnya adalah untuk perayaan tersebut, banyak uang yang mereka-mereka keluarkan untuk itu .

Lepas sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain, yang memang lebih bermanfaat atau bahkan bisa disedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan agar berbuah pahala.

Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk mengikuti hal lainnya.

Itulah pemborosan yang dilakukan saat itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan saat itu oleh seluruh penduduk indonesia, hanya demi sela hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

ولا تبذر تبذيرا إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS Al Isro ‘[17]: 26-27).

Maksudnya mereka adalah mereka setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al’ Azhim) []

Sumber: Rumaysho

loading...
loading...
Comments
Loading...