rumah nenek
Foto: Tribunnews

Viral Kisah Rumah Kecil Nenek yang Hanya Punya Jalan 30 Cm, Begini Kondisi Sesungguhnya

Seorang nenek bernama Sri Mulyatni (70) menempati rumah berukuran sekitar 2×4 meter di RT 1 RW 4 Kelurahan Bangunsari, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Kisah hidupnya mendadak viral setelah foto rumah dan gang yang diduga untuk menuju rumahnya diunggah di Facebook oleh sebuah komunitas yang peduli terhadap keberadaan orang miskin di Ponorogo.

Lokasi rumah nenek tersebut digambarkan dalam postingan di facebook berada di antara gang sempit, diapit rumah tetangganya.

Dalam postingan itu, disebutkan hanya ada satu jalan menyerupai lorong berukuran lebar sekitar 30 cm.

Padahal faktanya, lorong itu hanyalah jalan alternatif, sedangkan jalan utama berukuran sekitar satu meter.

Kepala Kelurahan Bangunsari, Dwi Cahyanto, mengatakan dalam postingan tersebut tidak seluruhnya benar.

Lorong sempit tersebut bukanlah satu-satunya akses ke rumah Mbah Sri.

“Lorong sempit itu bukan jalan utama, itu jalan alternatif, trabasan. Dan memang nggak lazim bila dipakai buat jalan. Lorong itu benar ada, tetapi jalan utamanya juga ada. Masih ada jalan, lebarnya sekitar satu meter,” kata Dwi saat ditemui di lokasi, Senin (16/10/17) siang.

Dwi menuturkan, sejak ramai diberitakan di media sosial, sejumlah petugas dinas sosial mendatangi Mbah Sri dan menawarinya untuk pindah ke panti jompo. Namun, Mbah Sri menolak.

Sementara itu, kepala RT 1 menuturkan selama ini, warga sekitar rumah Mbah Sri sudah memberikan bantuan.

Dikatakan, sejak Juli 2011 warga bergotong royong membantu Mbah Sri.

Sebulan sekali, warga secara suka rela menyumbangkan bantuan yang disimpan dalam kas.

“Sebulan sekitar 300 ribu, sesuai kebutuhan. Nanti dibelanjakan kebutuhannya sehari-hari, ada yang merawat namanya Jumiyati yang membelanjakan,” katanya, lansir Tribunnews.

Ia menuturkan, Mbah Sri belum pernah menikah. Sebelumnya tinggal bersama lima orang saudaranya bersama orangtuanya di rumah berukuran sekitar 10×8 meter.

Namun, rumah itu akhirnya dijual oleh orangtuanya.

“Dulu keluarganya ada, tinggal satu rumah berukuran sekitar 10×8 meter, tapi akhirnya dijual. Mbah Sri ditinggali dapur ukurannya sekitar 2×4 meter, yang sekarang ditempati itu. Saudaranya tinggal satu, tetap tidak jelas keberadaannya,” katanya.

Sementara itu, ketika ditemui Mbah Sri mengaku enggan pindah dari rumahnya meski ditawari tinggal di panti jompo. “Mboten, kulo teng mriki mawon. (Enggak, saya tinggal di sini saja),” kata Mbah Sri.

Karena faktor usia, Mbah Sri sudah tampak lemah. Kedua matanya juga sudah tidak dapat melihat.

Sudah sekitar dua puluh tahun, Mbah Sri tinggal di rumah kecilnya.

Di dalam rumah terdapat satu tempat tidur, satu lemari pakaian, satu meja dan sebuah tembok setinggi meter yang menjadi pembatas dengan WC.

Atap rumahnya terbuat dari kerangka bambu sudah tampak rapuh, tanpa menggunakan plafon.

“Kalau hujan ya bocor,” kata Mbah Sri.

Untuk makan dan minum, Mbah Sri mengandalkan uluran tangan dari tetangganya. Kadang, Mbah Sri memasak nasi sendiri.

“Ya saya gerayangi,” kata Mbah Sri saat ditanya bagaimana caranya memasak.

Ia mengaku memiliki satu orang saudara bernama Nurdayatun, yang kini tinggal di Surabaya.

Namun, ia mengaku tidak mengetahui dimana alamat rumah saudaranya.

“Alamatnya saya tidak tahu,” katanya.

Mbah Sri menceritakan, dahulu ia pernah diajak pindah oleh ibunya Sastro Diwiryo ke Wonogiri, namun ia tidak mau.

“Dulu saya mau diajak pindah ke Wonogiri, sama ibu saya. Tapi saya tidak mau,” katanya.

Sejak kondisi rumah Mbah Sri diposting di facebook, sejumlah komunitas dan sejumlah warga Ponorogo memberikan bantuan kepada Mbah Sri. []


Artikel Terkait :

About Yudi

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *