Unik, Informatif , Inspiratif

Wajibkah Ganti Shalat/Puasa Orang Tua yang Sudah Meninggal? Ini Jawaban Ustaz Abdul Somad

0

Para ulama hampir tidak ada perdebatan mengenai fidyah (qadha) bagi ahli waris untuk mengganti shalat yang ditinggalkan oleh orang meninggal (orang tua) semasa hidupnya bahwasanya hal tersebut tidak ada anjurannya. Adapun terkait puasa, ulama berbeda pendapat.

Pasalnya, ada 2 kondisi bagi orang yang meninggal terkait dengan kewajiban puasa Ramadhan di antaranya sebagai berikut :

  1. Orang tersebut wafat sebelum sempat berpuasa karena waktu yang sempit atau adanya uzur seperti sakit sehingga tidak sanggup berpuasa maka orang yang wafat dalam kondisi seperti ini menurut mayoritas fukaha tidak berkewajiban apa pun, sebab ia tidak melalaikan atau meremehkan puasa Ramadhan.

Ia tidak berdosa karena tidak mampu melaksanakan puasa hingga ajal menjemputnya.

Hukum wajibnya qadha gugur sebagaimana halnya kewajiban haji.

Ahli waris dan wali dari orang yang meninggal ini tidak berkewajiban menggantikan puasa atau membayarkan fidyahnya.

  1. Orang tersebut wafat setelah ia berkemungkinan melakukan puasa, yakni mengqadhanya.

Maka ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Menurut mayoritas fukaha walinya tidak perlu berpuasa untuknya, melainkan hanya membayarkan fidyah yang dikeluarkan dari harta yang ditinggalkan orang tersebut.

Bahkan, menurut qaulul jadid mazhab Syafi’i, jika walinya berpuasa untuknya, puasanya tidak sah karena puasa merupakan ibadah badaniyah mahdhoh sama halnya dengan shalat yang tidak bisa diwakilkan pada saat masih hidup atau pun sesudah meninggal.

Yang wajib dilakukan oleh ahli waris atau walinya hanyalah membayarkan fidyah baginya sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

Barangsiapa mati, sedangkan dia mempunyai tanggungan puasa selama sebulan, hendaknya dia diwakili oleh walinya untuk memberi makan seorang miskin setiap hari.” (HR Ibnu Majah)

Adapun menurut sebagian mazhab Hambali, sekelompok muhaddits mazhab Syafi’i, Abu Tsaur al-Auza’i, dan sebagainya, berpendapat bahwa ahli waris dan wali orang yang sudah wafat tersebut disunahkan berpuasa baginya sebagai tindakan kehati-hatian demi terbebasnya mayat dari tanggungannya.

Dalil mereka adalah beberapa hadis, di antaranya yang diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa mati sedangkan dia memiliki tanggungan puasa, hendaknya walinya berpuasa untuknya.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Demikian juga halnya dengan Ustaz Abdul Somad ketika ditanya apakah yang harus dilakukan oleh seorang anak atau ahli waris saat mengetahui bahwa orang tuanya mempunyai utang kewajiban shalat dan zakat semasa hidupnya sebelum meninggal.

Haruskah ia mengqadhanya atau membayar fidyahnya?

Menurut Ustaz Abdul Somad, terkait utang kewajiban shalat yang ditinggalkan oleh orang meninggal, hal itu tidak bisa diganti alias diqadha ataupun dibayarkan fidyahnya oleh ahli warisnya.

“Shalatnya.. tak bisa diganti. Puasanya bisa. Puasa ada dalilnya…,” terang Ustaz Abdul Somad.

Selengkapnya, simak paparan Uataz Abdul Somad dalam tayangan berikut ini:

Sumber: Al Mizan/Youtube


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.