membunuh Kim Jong Un
Foto: kompas.com

Wanita Korut Galang Dana untuk Hadiah Bagi Pembunuh Kim Jong Un

Seorang pembelot dari Korea Utara sedang menggalang dana untuk dijadikan hadiah bagi siapa saja yang dapat membunuh Kim Jong Un.

Dr Lee Aeran (53), ialah seseorang yang kabur dari sebuah kamp tahanan politik dan melalui perjalanan berbahaya untuk melintasi perbatasan pada 1997. Kini dirinya telah menikmati hidup barunya di Korea Selatan.

Lee Aeran merupakan wanita pembelot Korut pertama yang mendapat gelar doktor dan saat ini mempunyai usaha restoran yang sangat sukses.

Ia kini membuat sumpah untuk membalas rezim Korut dengan cara berjanji akan memberi hadiah uang untuk siapa saja yang dapat membunuh Kim Jong Un.

Di restorannya, Lee kini mencoba mengumpulkan sumbangan dari para pelanggannya. Dia berharap donasi itu akan memotivasi seseorang di lingkaran dalam sang diktator untuk membunuh dia.

“Selama Kim Jong Un masih hidup, kedamaian dunia sulit diperoleh,” kata Lee yang pada 2010 dianugeragi penghargaan Women of Courage dari pemerintah AS, seperti dilansir dari Kompas.com, Rabu (8/11/2017).

“Saya yakin Korea Utara butuh mengimplementasikan sebuah masyarakat yang berbasis demokrasi sehingga Kim Jong Un harus disingkirkan,” tambah Lee.

Cara terbaik, menurut Lee, adalah membunuh pria yang sejak 2011 menduduki tampuk kekuasaan di Korea Utara itu.

“Korea Utara adalah masyarakat yang tertutup sehingga hal ini amat sulit dilakukan. Jadi saya memutuskan menggelar kampanye hadiah uang bagi siapa saja yang bisa membunuh dia,” lanjut Lee.

Lee berharap hadiah uang ini bisa memotivasi orang-orang yang berada di lingkaran dalam Kim Jong Un untuk membunuh sang pemimpin.

Sudah berapa banyak uang yang dikumpulkan Lee dari hasil donasi pelanggan? Sejauh ini jumlahnya mencapai 3,3 juta won atau sekitar Rp 40 juta.

Ide mencari donasi ini sebenarnya sudah muncul sejak 2014, tetapi belum dilaksanakan hingga Otto Warmbier, mahasiswa AS yang pernah dipenjara di Korea Utara, meninggal dunia pada Juni lalu.

Warmbier dipenjara di dekat bekas tempat tinggal Lee di Pyongyang karena dituduh mencuri spanduk propaganda dan meninggal dunia enam hari setelah tiba di kampung halamannya, Ohio dalam kondisi koma.

Lee mengatakan, memang tak semua orang sepakat dengan kampanye yang digelar di restoran miliknya itu. Bahkan beberapa pelanggan setia memilih untuk memboikotnya.

Lee juga mengenang beratnya kehidupan di Korea Utara. Saat berusia 10 tahun, dia dan keluarganya dipindahkan ke sebuah kamp di provinsi Ryangganag.

Di sana Lee dan keluarganya mengalami kelaparan, pemukulan, dan kerja ekstra keras. Kondisi itu membuatnya di kemudian hari kerap mencoba untuk bunuh diri.

Akhirnya, keluarga Lee tidak tahan dengan penderitaan itu dan dengan nekat menyeberangi Sungai Amur memasuki wilayah China. Setelah berbulan-bulan berjalan kaki akhirnya mereka menemukan cara untuk tiba di Korea Selatan.

Lee yang telah sukses dengan restorannya kini masih tidak melupakan rekan-rekan sebangsanya. Salah satu buktinya ialah dia mempekerjakan perempuan-perempuan Korut di restoran itu.

Lee juga mengajar bahasa Inggris untuk para pengungsi Korea Utara untuk membantu mereka berintegrasi dan mempelajari ulang sejarah setelah mereka hanya mengetahui propaganda pemerintah selama hidupnya. []


Artikel Terkait :

About Fajar Zulfikar

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *