foto: SENTABET

Kisah Zinedine Zidane, Figur Sepakbola Muslim yang Introver

INSPIRADATA. Zinedine Zidane, pria yang lahir 23 Juni 1972 dan dibesarkan di La Castellane, pinggiran kota Marseille, Prancis.

Zidane menggambarkan dirinya sebagai “Muslim yang tidak mempraktekkan”– Non-practicing Moslem.  Tapi, hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya pemberitaan soal dia mengerjakan sholat sebelum pertandingan.

Keluarga Zidane pindah ke Prancis dari Aljazair pada tahun 1950-an. Rumah yang didapatkan orang tuanya di Prancis, bisa dibilang tidak layak –serta kurang baiknya cara penerimaan terhadap penduduk imigran (terutama imigran Muslimnya). Cara Zidane menggambarkan identitas dirinya mencerminkan kurang adanya toleransi di tempatnya tinggal:

“Setiap hari saya memikirkan dari mana saya berasal, dan saya bangga menjadi diri saya”
“Pertama, saya seorang dari Kabyle (wilayah Aljazair yang didatangi orang tuanya) di La Castellane, terus saya seorang Aljazair dari Marseille, dan kemudian saya seorang Prancis.”

Setelah Prancis memenangkan Piala Dunia 1998, Zidane menuai banyak pujian. Namun, politik SARA (suku, Ras, Agama, dan antargolongan) dengan cepat mengurangi euforia serta pesta kemenangan tersebut, ketika asal-usul Zidane dihina oleh beberapa anggota partai Front Nasional anti-imigran di Prancis.

Zidane telah mengecam partai tersebut secara terbuka dengan tegas:

“Pikirkan–dan saya menekankan kata-kata saya–tentang konsekuensi pemungutan suara untuk sebuah pesta yang sama sekali tidak sesuai dengan nilai-nilai Prancis.”
Prancis vs Aljazair

Ketika Prancis bertanding melawan Aljazair untuk pertama kalinya pada 2004 –seharusnya menjadi momen yang tepat untuk pemperbaiki hubungan– malah berakhir dengan kerusuhan di lapangan. Zidane menerima ancaman pembunuhan sebelum pertandingan, dan orang-orang di tribun mengangkat tanda-tanda yang mengatakan “Zidane-Harki.” (Harki, istilah untuk orang-orang Aljazair yang bertempur dengan Prancis dalam revolusi Aljazair–sebuah tuduhan terhadap ayah Zidane menjadi Seorang pengkhianat).

Bangganya Terhadap Nama dan Keluarganya
“Saya mengatakan ini sekali untuk seumur hidup: Ayah saya bukanlah seorang harki. Ayah saya orang Aljazair, saya bangga siapa dia dan saya bangga bahwa ayah saya orang Aljazair. Satu-satunya hal penting yang harus saya katakan adalah bahwa ayah saya tidak pernah berperang melawan negaranya.” []

Sumber


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

dampak buruk bekerja dari rumah

Pekerja Keras Rentan Alami Burnout, Ini Ciri-cirinya

Stres pun biasanya akan datang saat sudah sangat letih bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *